Kamis, 03 Oktober 2013

Kapan saya mengunakan mode manual dan aperture priority (A/Av)


Mode manual adalah mode yang paling fleksibel untuk merealisasikan efek kreatif fotografi yang dikehendaki. Di mode manual, kita bisa mengendalikan exposure yaitu bukaan lensa, shutter speed, ISO dan pengaturan lainnya. Lalu, kapan mode manual itu cocok untuk dipakai? Sebelum memutuskan untuk memakai mode manual, sebaiknya mempelajari dulu tentang hukum segitiga emas exposure.
Saya biasanya mengunakan mode manual biasanya saat memotret pemandangan sunset dan sunrise. Kamera saya dudukkan ke tripod dan saya atur kecerahan dengan mengatur shutter speed, sedangkan bukaan dan ISO saya atur supaya tetap. Misalnya f/16 dan ISO 100.
Dalam meliput kegiatan indoor yang cahaya ruangannya konstan/tidak berubah, saya sering mengunakan mode manual. Karena cahaya konstan saya tinggal mengatur exposure yang diinginkan dan memotret tanpa kuatir terang gelap foto berubah-ubah.
Mode manual kembali saya gunakan untuk memotret yang melibatkan lampu kilat, terutama di dalam ruangan. Hal ini karena alat pengukur cahaya/metering kamera, hanya mengukur cahaya lingkungan atau ambient light saja. Sehingga pilihan kamera dengan mode otomatis tidak selalu akurat sesuai dengan apa yg saya inginkan.
Sebagai contoh, metering kamera biasanya berusaha mencari setting supaya cahaya lingkungan terang, sedangkan saat memakai lampu kilat untuk foto produk, still life atau portrait di studio, saya justru tidak menginginkan cahaya ambient masuk ke foto. Dengan mode manual, saya dengan mudah dapat membatasi cahaya lingkungan untuk masuk ke dalam kamera dengan mengatur shutter speed yang cepat. Contoh 1/250 detik.
Meskipun mode manual sangat fleksibel, tapi ada kalanya kita tidak memiliki waktu yang terlalu banyak untuk mengubah setting kamera. Contohnya seperti saat memotret liputan acara, olahraga dan satwa liar yang mana subjek foto bergerak dengan cepat dan tak terduga. Cahaya yang berubah-ubah juga menyulitkan.
Mode kamera alternatif yang saya gunakan yaitu mode A / Av atau disebut juga mode prioritas apertur. Di mode ini, saya menentukan nilai bukaan kamera saja, dan kamera membantu saya mencari nilai shutter speed yang menghasilkan foto dengan tingkat kecerahan yg tidak terlalu terang atau gelap.
Jika pilihan setting exposure kamera tidak sesuai dgn apa yang saya inginkan. Saya biasa mengunakan fungsi kompensasi eksposur untuk mengatur kecerahan gambar. Nilai positif untuk meningkatkan kecerahan dan nilai negatif untuk menggelapkan.
Dan apabila shutter speed yang dipilihkan kamera terlalu lambat, saya akan menaikkan ISO. Dengan menaikkan ISO, shutter speed otomatis akan meningkat nilainya.
Mode lainnya jarang saya gunakan karena menurut pengalaman saya, mode manual dan aperture priority sudah cukup memenuhi berbagai jenis fotografi yang saya praktikkan.
Baca juga: Mengenal mode kamera digital 
Untuk foto sunset, kebiasaan saya adalah mengunakan mode manual. ISO 200, f/11, 3 detik

Tips pose untuk model amatir


Mengarahkan pose adalah salah satu tantangan utama para fotografer. Jangankan orang biasa, model yang sudah berpengalaman juga sering kikuk dalam berpose. Mengetahui teknik pose dasar merupakan hal yang penting diketahui oleh fotografer.
Secara sederhana, ada beberapa hal dasar yang perlu diperhatikan saat mengatur pose untuk model amatir:
  1. Jangan bungkuk – Posisi badan tidak harus tegak, tapi tulang belakang harus lurus.
  2. Pundak harus rileks – Pundak yang tegang dan naik ke atas kelihatan tidak nyaman.
  3. Kaki merupakan fondasi yang penting, saat berdiri, atur berat ke salah satu kaki, jangan sama rata ke kedua kaki.
  4. Mata juga harus dipose, arahkan mata untuk fokus ke suatu tempat/subjek. Mata tidak perlu selalu menatap ke kamera.
  5. Supaya tidak terkesan kaku, lengan sebaiknya tidak lurus, tapi dibengkokkan, misalnya berkacak pinggang, atau menyentuh sesuatu.
Dengan mengikuti tips dasar pose diatas, semoga bisa membantu mengarahkan subjek foto supaya hasilnya lebih mantap.
awas, bungkuk! :)

Menangani dan mengarahkan model


Beberapa tahun belakangan ini, foto portrait model merupakan jenis fotografi yang sangat diminati oleh penghobi fotografi. Di setiap acara kalau ada foto modelnya, pasti yang datang ratusan. Apalagi kalau modelnya cantik-cantik dan seksi-seksi. Tapi kalau acaranya tidak ada sesi foto modelnya, yang datang kalau bisa lebih dari jumlah jari, saya sudah sangat bersyukur.
Contohnya saat saya bertandang ke Pertamina tempo hari untuk membawakan materi dasar fotografi, yang hadir mayoritas wanita. Yang cowok-cowoknya gak semangat ikut karena gak ada modelnya he he he…
Saat saya buka kelas foto portrait model, yang ikut biasanya melebihi kuota. Karena saya batasi hanya 8-10 orang per workshop, akhirnya banyak orang yang masuk daftar tunggu. Kalau saja saya buat poster dengan berisi foto model dengan pose seksi, yang daftar mungkin bisa lebih banyak lagi.
Tapi karena kelas saya fokusnya untuk mengajar, saya berusaha untuk tidak menonjolkan hal tersebut. Senangnya peserta-pesertanya kelas saya biasanya aktif dan antusias untuk menggali ilmu fotografi. Saya beserta asisten saya juga senang sebagai pengajarnya hehe.
Dari workshop, saya mendapatkan banyak peserta yang agak canggung atau kebingungan dalam mengarahkan model. Hal itu lumrah karena antara peserta dan model belum saling kenal. Tapi untuk bisa membuat foto yang bagus, kita membutuhkan komunikasi yang baik dengan model.
Ada beberapa tips saya untuk fotografer:
  • Jangan sentuh model, karena akan membuat model menjadi tidak nyaman. Kita juga kehilangan kepercayaan, dan model bisa jadi bete. Dan kalau sudah bete, hasil foto tidak akan maksimal. Saat mengarahkan sebaiknya kita mendemonstrasikan supaya model bisa memahami maksud kita.
  • Kita perlu banyak melihat foto-foto model yang  kita sukai dan menjadikan itu sebagai referensi
  • Komunikasikan apa yang diinginkan atau diharapkan dari model
  • Ada baiknya untuk belajar pose sehingga dapat mendemonstrasikan ke model
  • Be helpful jika model butuh bantuan dari hal-hal kecil seperti memberikan tissue atau air minum
  • Jika modelnya profesional atau semi-pro jangan lupa mempersiapkan bayaran dan jangan mengurangi bayarannya. Hal ini membuat model percaya dengan kita, dan akan memudahkan kita saat membutuhkan model di kemudian hari. Jangan anggap enteng hal ini karena antar model biasanya terjalin persahabatan yang cukup erat.
Saya juga ada beberapa tips untuk model:
  • Datang tepat waktu
  • Siap saat waktu yang ditentukan, kalau memang make-up sendiri, seharusnya sudah siap di lokasi
  • Jangan batalkan perjanjian tiba-tiba. Be reliable sehingga bisa dipercaya untuk job pemotretan berikutnya
  • Selalu meningkatkan diri dari segi skill pose, make-up dan koleksi pakaian
Kelas portrait model di Sunda Kelapa, Jakarta

Tips foto model: Komposisi


Di workshop portrait model kemarin, ada peserta yang menanyakan tentang bagaimana membuat komposisi yang menarik. Menurut saya, komposisi itu tergantung bagaimana apa yang kita ingin ceritakan.
Kita bisa mengkomposisikan secara ketat dengan hanya mengikutsertakan wajah model saja, atau mengikutsertakan lingkungan sekitar. [Baca juga rasio wajah]. Untuk komposisi yang wajah yang ketat saja, posisi wajah dan mata adalah sesuatu yang penting. Biasanya saya mengikuti aturan sepertiga (rule of thirds). Saya menghindari memposisikan wajah di tengah-tengah karena nanti jadinya seperti pas foto. Contohnya seperti di bawah ini:
Di close-up ini, wajah model diposisikan agak ke kanan mengikuti aturan sepertiga. Cahaya dari latar belakang memberikan kesan dimensi dan tekstur. Pencahayaan utama ke wajah adalah flash+payung dari sebelah kiri atas. Dengan adanya sinar lampu kilat di tempat yang tertutup, mata model menjadi lebih hidup karena ada pantulan cahayanya. Model: Auorellia Inez.
Untuk komposisi subjek foto beserta lingkungannya, yang penting diperhatikan adalah latar belakang jangan ada hal-hal yang mengganggu perhatian. Misalnya ada turis lewat, atau hal-hal yang tidak nyambung dan merusak estetika, contohnya sampah.
Di foto yang ini, saya memasukkan lebih banyak latar belakang untuk menceritakan suasana / lingkungannya. Banyak orang lalu lalang di bagian belakang, sehingga saya harus sabar menunggu momen yang tepat. Pencahayaan alami dari matahari.
Setelah menguasai teknik dan setting kamera, komposisi memang menjadi momok yang cukup menakutkan bagi fotografer pemula. Tapi jangan kuatir, semua ini bisa dipelajari. Saran saya adalah terus berlatih, banyak melihat foto-foto yang bagus dan praktik. Bersabarlah, karena mempelajari komposisi ini 50% teori, 50% dari pengalaman. Alhasil, lama kelamaan mata dan feeling kita akan semakin jeli dan terasah.

Reflektor untuk portrait model outdoor


Kalau suka foto portrait outdoor, sebuah reflektor adalah aksesoris lighting yang murah meriah dan efektif. Fungsi reflektor adalah memantulkan cahaya ke subjek foto sehingga subjek foto terlihat lebih terang. Reflektor paling efektif saat langit mendung atau cahaya dari belakang (backlight).
Untuk foto portrait model outdoor, reflektor favorit saya adalah yang permukaannya emas. Pantulan cahayanya agak kekuningan membuat kulit model menjadi lebih bersinar. Bukan hanya itu, di mata juga ada pantulan cahaya yang biasa dinamakan “catch light.” Pantulan bulatan itu membuat mata lebih hidup.
ISO 200, 1/640 detik, f/2.8, 200mm (Nikon D700+Sigma 70-200mm f/2.8 HSM Macro) dengan reflektor permukaan emas. Foto dari workshop portrait model di Museum Bank Mandiri, Jakarta
Penempatan juga perlu diperhatikan dengan cermat, di luar ruangan, kita harus mencari arah cahaya (biasanya dari atas/langit), maka dari itu reflektor biasanya di tempatkan agak dari bawah. Selanjutnya kita harus benar-benar memperhatikan pantulan cahaya yang jatuh ke subjek foto. Kadang cahaya jatuh ke leher/badan daripada ke wajah sehingga pencahayaan jadi kurang merata. Hindari juga penempatan reflektor yang terlalu dekat, karena jatuhnya cahaya membuat wajah menjadi serem (seperti hantu di film horor hehe).
Alternatif reflektor adalah lampu kilat atau flash. Karakter lampu kilat itu sangat berbeda. Lampu kilat adalah sumber cahaya kecil yang hasilnya lebih keras (kecuali diberi diffuser seperti payung/softbox).  Selain itu, flash lebih praktis karena tidak perlu dipegangin oleh asisten/modelnya.

Untuk mengetahui bermacam fungsi reflektor berdasarkan warna permukaannya, silahkan baca tulisan mengenal reflektor.

Belajar mengunakan teknik fokus hyperfocal distance


Memfokuskan lensa ke jarak hiperfokal (hyperfocal) memastikan bahwa 1/2 jarak dari jarak hiperfokal sampai tak terhingga dalam fokus/tajam. Ada tiga faktor yang mempengaruhi jarak hiperfokal yaitu bukaan lensa, rentang fokal lensa (focal length) dan ukuran sensor kamera.
Teknik mengunakan hyperfocal distance sering digunakan oleh fotografer landscape, street photography supaya objek foto dan latar belakangnya tajam. Teknik ini berperan sangat penting saat memotret dengan lensa/kamera yang tidak mendukung fungsi autofokus. Contohnya kamera rangefinder seperti Leica, atau saat mengunakan lensa yang tidak memiliki fungsi autofokus seperti lensa-lensa Samyang, Carl Zeiss dan lain lain. Syaratnya kamera harus bersensor full frame (36 x 24 mm) bukan APS-C. Sayangnya kamera DSLR jaman sekarang sebagian besar bersensor APS-C jadinya tanda tersebut kurang begitu relevan/akurat.
Di lensa 35mm f/1.8G, tidak ada tanda jarak fokus dan hyperfocal
Di lensa 35mm f/1.8G, tidak ada tanda jarak fokus dan hyperfocal
Lensa yang dibuat di era kamera film biasanya memiliki jarak fokus dan tanda hyperfocal yang jelas
Lensa  yang dibuat di era kamera film biasanya memiliki jarak fokus dan tanda hyperfocal yang jelas dan cukup lengkap
Di era autofokus (AF), menerapkan teknik ini menjadi lebih sulit karena lensa-lensa modern tidak memiliki tanda hyperfocal distance (tanda jarak fokus hyperfocal yang terukir di lensa). Jika Anda mengunakan lensa jaman dahulu, periksalah lensa Anda.
Langkah-langkah mengunakannya cukup mudah.
  1. Tentukan nilai aperture/bukaan yang dikehendaki, misalnya f/22
  2. Putar laras fokus sampai angka 22 yang terletak disebelah kiri yang sejajar dengan tanda tak terhingga
  3. Bacalah angka sebelah kanan yang sejajar dengan angka 22
Dalam kasus lensa Nikkor AF 50mm f/1.8D ini, saya mendapatkan jarak kurang lebih 2 meter. Artinya, objek yang terletak 2 meter sampai tak terhingga akan fokus (tajam).
Jarak hyperfocal
Set tanda tak terhingga sejajar dengan 22 dan perhatikan angka di sebelah kiri yang sejajar dengan angka 22. Kira-kira jatuh pada angka 2 meter (antara 1.5-3 meter).
Di lensa jaman sekarang biasanya tanda hyperfocal dihapus, yang ada cuma jarak fokus saja. Jika tetap ingin mengunakan teknik ini maka diperlukan tabel atau kalkulator. Tapi metode kalkulator ini juga sulit diterapkan karena kebanyakan lensa tidak memberikan tanda jarak fokus secara lengkap.
Keuntungan teknik hyperfocal adalah Anda tidak perlu mengaktifkan autofokus (tidak perlu menekan setengah tombol jepret), jadi bisa jadi lebih cepat dalam memotret. Kelebihan ini banyak digunakan oleh street photographer untuk merekam momen dengan cepat.
Teknik ini tidak begitu cocok saat mengunakan lensa yang berbukaan besar, rentang jarak fokus hyperfokal sempit, jadi kemungkinan objek yang ingin difokuskan bisa jadi gak fokus. Oleh sebab itu, teknik ini lebih cocok saat mengunakan bukaan yang kecil dan lensa yang lebar.

Mengunakan tabel

Jika lensa yang digunakan tidak memiliki tanda depth of field, maka cara lain yaitu dengan menghitung dengan kalkulator atau melihat tabel. Contohnya: Jika mengunakan kamera bersensor APS-C dan lensa 24mm, bukaan f/22 maka jarak hyperfocalnya adalah 0.9 m. Artinya apa saja yang terletak dari jarak (0.9 m / 2) = 0.45 m sampai tak terhingga akan berada dalam fokus/tajam.
Untuk membuat tabel, rekomendasi saya adalah halaman di website ini.
kalkulator-fokus-hyperfocal

teknik keren untuk photography

memang banyak dalam pembuatan foto namun disaat akan melakukan shooting, moment yang diinginkan kadang tidak terpenuhi. namun ada juga sampai kita kehabisan ide untuk memfoto suatu objek. disini sahabat anehdidunia.blogspot.com akan di berikan ide ide yang mungkin bisa membantu dalam membuat foto agar lebih menarik, dengan kumpulan foto foto yang mungkin hasil jepretan foto para fotografer profesional. semoga artikel ide ide untuk photography ini dapat membantu sahabat anehdidunia semua. http://anehdidunia.blogspot.com




http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com

http://anehdidunia.blogspot.com

http://anehdidunia.blogspot.com






http://anehdidunia.blogspot.com





http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com




http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com


http://anehdidunia.blogspot.com


http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com






http://anehdidunia.blogspot.com














http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com
http://anehdidunia.blogspot.com